Mei 24, 2024

Kata-Kata Hikmah

Menghidupkan kepekaan hati

مِنْ عَلَامَاتِ مَوْتِ الْقَلْبِ عَدَمُ الْحُزْنِ عَلَى مَا فَاتَكَ مِنَ الْمُوَافَقَاتِ وَتَرْكُ النَّدْمِ عَلَى مَا فَعَلْتَهُ مِنْ وُجُوْدِ الزَّلَّاتِ

“Di antara tanda matinya hati ialah tidak adanya rasa sedih atas hilangnya kesempatan untuk taat kepada Allah dan tidak adanya penyesalan atas perbuatan (lalai dan maksiat) yang telah anda lakukan…”

Bala’ sebagai Bentuk Perhatian Allah Swt,

Ibnu Athaillah berkata:

لِيُخَفِّفْ أَلَمَ الْبَلَاءِ عَنْكَ عِلْمُكَ بِأَنَّهُ سُبْحَانَهُ هُوَ الْمُبْلِي لَكَ فَالَّذِيْ وَاجَهَتْكَ مِنْهُ الْأَقْدَارُ هُوَ الَّذِيْ عَوَّدَكَ حُسْنَ الْاِخْتِيَارِ

“Pedihnya ujian bisa diringankan dengan pengetahuanmu bahwa Allah Swt. lah yang menurunkannya. Yang mendatangkan ujian-takdir kepadamu adalah Dia yang juga bisa menganugerahkan pilihan-pilihan terbaik buatmu”.

Ibnu Athaillah menegaskan:

مَتَى أَعْطَاكَ أَشْهَدَكَ بِرُّهُ وَمَتَى مَنَعَكَ أَشْهَدَكَ قَهْرَهُ فَهُوَ فِيْ كُلِّ ذَلِكَ مُتَعَرِّفٌ عَلَيْكَ وَمُقْبِلٌ بِوُجُوْدِ لُطْفِهِ عَلَيْكَ

“Ketika Allah memberimu, maka Dia sesungguhnya sedang memperlihatkan belas kasih-Nya kepadamu; dan ketika Dia menolak memberimu, maka Dia sedang menunjukkan kekuasaan-Nya kepadamu; dan di dalam semuanya itu, ia sesungguhnya hendak memperlihatkan diri kepadamu dan ingin menjumpaimu dengan kelembutan-Nya”.

Seseorang yang mengandalkan dirinya pada amal

مِنْ عَلَامَةِ الِاعْتِمادِ عَلَى العَمَل – نُقْصَانُ الرَجاءِ عِنْدَ وُجُودِ الزَلَل

Diantara tanda seseorang mengandalkan dirinya pada amal (ibadah/perbuatan) nya adalah kurangnya pengharapan (kepada rahmat Allah swt) ketika tersandung musibah atau dosa

Tutur kata yang Bijak

العِباراتُ قُوتٌ لعائِلَةِ المُسْتَمِعينَ، وَلَيْسَ لَكَ إلّا ما أنْتَ لَهُ آكِلٌ.

Tutur kata yang bijak itu ibarat hidangan makanan bagi mereka yang mendengarkan, dan jatahmu hanyalah apa yang engkau makan darinya

رُبَّما عَبَّرَ عَنِ المَقامِ مَنْ اسْتَشْرَفَ عَلَيْهِ، وَرُبَّما عَبَّرَ عَنْهُ مَنْ وَصَلَ إلَيْهِ، وَذلِكَ يَلْتَبِسُ إلّا عَلى صاحِبِ البَصيرَةِ.

Bisa jadi orang yang menerangkan suatu tahapan spiritual (maqam) adalah orang yang baru ingin sampai pada tahapan itu. Kadang pula orang itu telah sampai pada tahapan yang dimaksud. Yang demikian itu memang tampak kabur (samar), kecuali bagi orang-orang yang memiliki ketajaman mata batin

لا يَنْبَغي لِلسّالِكِ أنْ يُعَبِّرَ عَنْ وارِداتِهِ؛ فإنَّ ذلِكَ يُقِلَّ عَمَلَها في قَلبِهِ وَيَمْنَعْهُ وُجودَ الصِّدْقِ مَعَ رَبِّهِ.

Tidaklah pantas seorang salik (penempuh jalan) mengungkapkan karunia warid yang telah ia dapatkan. Sebab, yang demikian itu akan mengurangi pengaruh warid dalam hatinya, dan menghalanginya dari ketulusan kepada Rabbnya

لا تَمُدَّنَ يَدَكَ إلى الأخْذِ مِنَ الخَلائِقِ، إلّا أنْ تَرى أنَّ المُعْطِيَ فِيهِمْ مَوْلاكَ. فإنْ كُنْتَ كَذلِكَ فَخُذْ ما وافَقَ العِلْمَ.

Janganlah sekali-kali kalian ulurkan tangan untuk menerima pemberian dari makhluk, kecuali engkau menyadari bahwa pemberi yang sejati di balik mereka itu ialah Rabbmu. Apabila engkau mampu berlaku demikian, maka terimalah apa yang sesuai dengan ilmu yang engkau pahami

رُبَّما اسْتَحْيا العارِفُ أنْ يَرفَعَ حاجَتَهُ إلى مَوْلاهُ اكْتِفاءً بِمَشيئَتِهِ. فَكَيْفَ لا يَسْتَحْيي أنْ يَرْفَعَها إلى خَليقَتِهِ.

Terkadang seorang ‘arif merasa malu meminta sesuatu yang ia butuhkan kepada Rabbnya, karena telah merasa puas mengikuti kehendak-Nya. Maka mana mungkin ia tidak malu untuk meminta sesuatu kepada makhluk-Nya

إذا التَبَسَ عَلَيْكَ أمْرانِ فانْظُرْ أثْقَلَهُما عَلى النَّفْسِ فَاتَّبِعْهُ، فَإنَّهُ لا يَثْقُلُ عَلَيْها إلّا ما كانَ حَقّاً.

Apabila ada dua hal yang membuat kalian bingung (memilihnya), maka perhatikanlah mana yang lebih memberatkan hawa nafsu kalian, lalu ikutilah. Sebab, tidak akan memberatkan hawa nafsu selain hal yang benar

مِنْ عَلاماتِ اتِّباعِ الهَوى المُسارَعَةُ إلى نَوافِلِ الخَيْراتِ، وَالتَّكاسُلُ عَنِ القِيامِ بِالواجِباتِ.

Di antara tanda memperturutkan hawa nafsu adalah bergegas dalam amalah sunnah, namun malas dalam melaksanakan amalan wajib.

قَيَّدَ الطّاعاتِ بِأعْيانِ الأوْقاتِ كَيْ لا يَمنَعَكَ عَنها وُجودُ التَّسْويفِ. وَوَسَّعَ عَلَيْكَ الوَقْتَ كَيْ تَبْقى لَكَ حِصَّةُ الاخْتِيارِ.

Allah sengaja menetapkan waktu-waktu tertentu untuk beribadah, agar engkau tidak sampai tertinggal karena menunda mengerjakannya. Dan Allah memberi keluasan waktu bagimu, agar tetap ada kesempatan untuk memilih

عَلِمَ قِلَّةَ نُهوضِ العِبادِ إلى مُعامَلَتِهِ، فَأوْجَبَ عَلَيْهِمْ وُجودَ طاعَتِهِ، فَساقَهُمْ إلَيْهِ بِسَلاسِلِ الإيْجابِ. “عَجِبَ رَبُّكَ مِنْ قَوْمٍ يُساقونَ إلى الجَنَّةِ بِالسَّلاسِلِ”.

Allah Mahamengetahui tentang kemalasan hamba-Nya dalam berhubungan dengan-Nya, sehingga dia menjadikan ketaatan kepada-Nya sebagai kewajiban mereka. Lalu Allah menggiring mereka kepada ketaatan dengan rantai kewajiban. Rabbmu kagum dengan orang-orang yang digiring ke syurga dengan menggunakan rantai tersebut.

أوْجَبَ عَلَيْكَ وُجودَ خِدْمَتِهِ، وَما أوْجَبَ عَلَيْكَ إلا دُخولَ جَنَّتِهِ.

Allah mewajibkanmu berkhidmat (mengabdi) kepada-Nya, dan Dia tidak mewajibkan sesuatu kecuali ada balasan masuk syurga-Nya

مَنْ اسْتَغْرَبَ أنْ يُنْقِذَهُ اللهُ مِنْ شَهْوَتِهِ، وَأنْ يُخْرِجَهُ مِنْ وُجودِ غَفْلَتِهِ. فَقَدِ اسْتَعْجَزَ القُدْرَةَ الإلهِيَّة، (وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا)

Barangsiapa yang merasa heran kalau Allah sampai menyelamatkannya dari pengaruh buruk syahwatnya, atau mengentaskannya dari jerat kelalaian, maka berarti ia telah menganggap lemah kekuasaan Allah. dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu

رُبَّما وَرَدَتِ الظُّلَمُ عَلَيْكَ، لِيُعَرِّفَكَ قَدْرَ ما مَنَّ بِهِ عَلَيْكَ.

Kadang kegelapan mendatangimu, karena Allah hendak menyadarkanmu atas besarnya nikmat yang telah Dia berikan kepadamu

مَنْ لَمْ يَعْرِفْ قَدْرَ النِّعَمِ بِوجْدانِها عَرَفَها بِوُجودِ فُقْدانِها.

Orang yang tidak mengetahui nilai nikmat tatkala memperolehnya, maka ia akan mengetahuinya tatkala sudah terlepas dari dirinya (nikmat itu)

لا تُدْهِشْكَ وارِداتُ النِّعَمِ عَنِ القِيامِ بِحُقوقِ شُكْرِكَ. فإنَّ ذلِكَ مِمّا يَحُطُّ مِنْ وُجودِ قَدْرِكَ.

Janganlah datangnya nikmat malah membuatmu panik untuk memenuhi kewajiban syukurmu. Sebab, itu bisa merendahkan kedudukanmu

تَمَكُّنُ حَلاوَةِ الهَوى مِنَ القَلْبِ هُوَ الدّاءُ العُضالُ.

Manisnya hawa nafsu yang telah menguasai qalbu adalah penyakit yan g sangat sulit untuk disembuhkan

لا يُخْرِجُ الشَّهْوَةَ مِنَ القَلْبِ إلّا خُوْفٌ مُزْعِجٌ أوْ شَوْقٌ مُقْلِقٌ.

Tidak ada yang bisa mengusir ajakan syahwat (yang menyesatkan) dari hati, kecuali rasa takut (kepada Allah) yang menggetarkan atau rasa rindu (kepada Allah) yang menggelisahkan

كَما لا يُحِبُّ العَمَلَ المُشْتَرَكَ لا يُحِبُ القَلْبَ المُشْتَرَكَ. العَمَلُ المُشْتَرَكُ هُوَ لا يَقْبَلُهُ، والقَلْبُ المُشْتَرَكُ لا يُقْبِلُ عَليه.

Sebagaimana Allah tidak menyukai amal yang tidak sepenuhny bagi-Nya, Allah juga tidak menyukai hati yang tidak sepenuhnya bagi-Nya. Amal yang tidak sepenuhny bagi-Nya tidak Dia terima, dan hati yang tidak sepenuhnya bagi-Nya tidak diperdulikan oleh-Nya

أنْوارٌ أُذِنَ لَها في الوُصولِ وَأَْنوارٌ أُذِنَ لَها في الدُّخولِ.

Ada cahaya yang hanya diizinkan Allah untuk sampai ke hati, dan ada pula cahaya yang di izinkan Allah untuk masuk ke dalam hati

رُبَّما وَرَدَتْ عَلَيْكَ الأنْوارُ فَوَجَدَتِ القَلْبَ مَحْشُوّاً بِصُوَرِ الآثارِ فَارْتَحَلَتْ مِنْ حَيْثُ نَزَلَتْ.

Kadang cahaya-cahaya mendatangimu, namun mereka menemukan hatimu masih dipenuhi dengan hal-hal yang bersifat duniawi. Maka, cahaya-cahaya itu kembali ketempat semula. Oleh karena itu, kosongkan hatimu dari segala sesuatu selain Allah, maka Allah akan memenuhinya dengan pengetahuan dan rahasia.

فَرِّغْ قَلْبَكَ مِنَ الأَغْيارِ تَمْلأهُ بِالمَعارِفِ والأسْرارِ.

kosongkanlah hatimu dari selain Allah, agar hati itu dipenuhi dengan ilmu ma’rifat dan berbagai rahasia

لا تَسْتَبْطِئْ مِنْه النَّوالَ، وَلكِنِ اسْتَبْطئْ مِنْ نَفْسِكَ وُجودَ الإقْبالِ.

Jangan merasa karunia Allah lambat datang kepadamu, akan tetapi tengoklah diri engkau yang lambat menghadap pada-Nya

حُقوقٌ في الأوْقاتِ يُمْكِنُ قَضاؤها، وَحُقوقٌ في الأوْقاتِ لا يُمْكِنُ قَضاؤها. إذْ ما مِنْ وَقْتٍ يَرِدُ إلا وللهِ عَلَيْكَ فيهِ حَقٌ جَديدٌ وَأَمْرٌ أكيدٌ. فَكَيْفَ تَقْضي فيهِ حَقَّ غَيْرِهِ وَأنْتَ لَمْ تَقْضِ حَقَّ اللهِ فيهِ؟!

Beberapa kewajiban dalam satu waktu bisa diqadha (diganti diwaktu lain), namun tidak mungkin untuk mengqadha kewajiban waktu. Alasannya Allah mewajibkan padamu suatu kewajiban baru atau perintah tertentu untuk setiap waktu. Kemudian bagaimana engkau bisa memenuhi kewajiban yang lain, sementara engkau belum memenuhi hak Allah dalam setiap waktu itu?