Mei 24, 2024

Peran Guru

Guru merupakan profesi yang memiliki beragam tanggung jawab dalam dunia pendidikan. Salah satunya adalah mendidik siswa untuk mencapai sasaran pembelajaran. Selanjutnya, guru memiliki amanah untuk mencerdaskan anak bangsa.

Tentunya peran guru tidak hanya mentransfer ilmu semata namun juga bertanggung jawab penuh untuk mendidik, membimbing, mengayomi, memotivasi, mengarahkan, dan mengevaluasi seluruh peserta didiknya.

Di dalam dunia pendidikan, sosok guru merupakan ujung tombak yang menjadi penentu maju mundurnya suatu bangsa. Peran seorang guru tidak bisa digantikan oleh secanggih apapun perkembangan teknologi di era digital.

Pembelajaran daring di era pandemi seperti saat ini, ketika peserta didik belajar mandiri di rumah dan di sekolah melalui sumber pembelajaran lainnya selalu tidak sempurna, mereka tetap membutuhkan guru secara langsung untuk membimbing.

Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak tahun 2020 seakan menjadi saksi kocar kacirnya dunia pendidikan di Indonesia. Di masa pandemi, hampir seluruh sekolah di Indonesia harus melaksanakan pembelajaran secara tatap muka terbatas atau malah daring. Tidak mau terpuruk dalam situasi yang bahkan tidak bisa diprediksikan kapan akan berakhir, Pemerintah mengarahkan agar sekolah-sekolah melakukan kegiatan pembelajaran blended secara luring dan daring.

Menghadapi sistem belajar yang berbeda dari template umum, beberapa kendala langsung dirasakan oleh siswa. Seperti keterbatasan fasilitas pendukung, tidak semua peserta didik memiliki smartphone atau laptop. Mereka yang berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi menengah ke bawah sangat kesulitan.

Lalu, pendampingan orangtua yang tidak bisa dilakukan secara maksimal dikarenakan kesibukan mereka bekerja. Selanjutnya adalah kesulitan anak dalam memahami materi yang diberikan oleh guru secara daring.

Berkaca dari semua kendala tersebut maka bisa dipastikan bahwa siswa tetap membutuhkan penjelasan dan bimbingan langsung dari guru. Hal ini membuktikan bahwa peran aktif dan keterlibatan guru tetap menjadi indikator penting terhadap sukses atau tidaknya suatu proses pembelajaran.

Tugas seorang guru tidak terbatas ruang dan waktu. Jika sekolah dianggap sebagai rumah kedua, maka guru adalah orangtua kedua bagi para siswa. Selayaknya orangtua yang harus selalu mengarahkan, membimbing, menjaga dan menyayangi anaknya, begitu pun para guru yang sepatutnya juga bisa memegang peranan tersebut di lingkungan sekolah.

Aini (2012) dalam artikel yang berjudul “Peran Guru dalam Proses Pembelajaran” menggambarkan peranan guru sebagai komunikator, sahabat yang dapat memberikan nasihat-nasihat, motivator sebagai pemberi inspirasi dan dorongan, pembimbing dalam pengembangan sikap, tingkah laku dan nilai-nilai serta sebagai sosok yang menguasai bahan yang diajarkan.

Dalam menjalankan perannya sebagai seorang pendidik, guru mempunyai berbagai peran yang mencakup beberapa aspek, baik di sekolah, keluarga dan masyarakat. Guru yang baik dan profesional adalah guru yang bisa menjalankan semua peran yang diamanahkan kepadanya.

Berdasarkan pengalaman sebagai seorang guru, penulis mencoba mengklasifikasikan beberapa peran guru yang paling dominan dan bermakna dengan pelbagai perannya.

Pertama, guru sebagai pengajar. Sesuai dengan profesinya, tugas utama seorang guru adalah memastikan setiap materi pembelajaran mampu diterima dengan baik oleh seluruh peserta didiknya. Serta bagaimana peserta didik tersebut dapat mengaplikasikan pengetahuan yang mereka peroleh di sekolah dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Tugas tersebut diharapkan mampu dijalankan dengan baik oleh seorang guru agar peran-peran selanjutnya bisa terlaksanakan dengan baik pula. Timbul semangat berbuat lebih baik lagi dan lebih banyak lagi dari seorang guru ketika ia mampu melaksanakan tugas utamanya dengan sepurna.

Kedua, guru sebagai pendidik. Sebagai seorang pendidik, seorang guru mengemban tanggung jawab untuk membentuk aspek afektif peserta didik dengan mengarahkan mereka untuk bersikap yang baik, berakhlak mulia dan mematuhi norma-norma yang dianut dalam masyarakat.

Hal ini menjadi penting dengan harapan kelak mereka bisa menjadi manusia yang berkarakter baik. Menjalani peran sebagai guru tingkat SMP, penulis beranggapan bahwa membentuk karakter peserta didik menjadi satu hal wajib yang harus dilakukan mengingat usia peserta didik tingkat SMP berkisar antara 13 sampai 15 tahun. Pada tahap ini mereka baru mulai belajar hal-hal baru dalam kehidupan dan lingkungannya. Sehingga sangat penting bagi guru untuk membimbing dan mengarahkan mereka agar mereka bisa memilah dan memilih, hingga nantinya memiliki karakter dan nilai-nilai diri yang baik.

Ketiga, guru sebagai teman. Dalam perkembangan dunia pendidikan tentu kita sudah tidak asing lagi dengan istilah “Sekolah Ramah Anak”. Latar belakang munculnya gagasan ini tidak terlepas dari tujuan pendidikan itu sendiri yang mana sekolah dituntut untuk menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, positif dan memberikan kenyamanan dan rasa aman bagi seluruh peserta didiknya.

Tidak bisa dipungkiri, berbagai masalah selalu akan kita temui di kelas, baik itu masalah akademik maupun non-akademik. Beberapa persoalan seperti masalah hubungan pertemanan antar peserta didik, masalah dengan anggota keluarga mereka di rumah, maupun masalah dengan guru-guru di sekolah adalah beberapa “menu” rutin para guru.

Setiap anak memiliki keunikan masing-masing dan kepribadian yang berbeda-beda, serta tentunya variasi masalah pula. Ketika berbagai bentuk problematika itu terjadi, seorang guru dituntut untuk memainkan perannya sebagai teman.

Guru yang baik adalah guru yang bisa memposisikan dirinya sebagai sahabat bagi peserta didiknya yang selalu ada kapanpun dibutuhkan. Selalu bisa mendengarkan keluh kesah mereka serta mengarahkan dan membimbing mereka untuk mencari solusi dari setiap masalah yang dihadapi.

Keempat, guru sebagai motivator. Sebagai motivator guru diharapkan bisa memberikan dorongan-dorongan positif kepada peserta didik untuk mengembangkan kreativitas, serta membuat mereka berdaya dalam menghadapi berbagai masalah yang terjadi dalam kehidupan nantinya.

Ketika daya kreativitas dan daya kritis seorang siswa berkembang, maka diharapkan ia akan menjadi agen perbaikan untuk dirinya sendiri maupun rekan-rekan sebayanya.

Kelima, guru sebagai role-model. Guru adalah sosok yang digugu dan ditiru. Oleh karena itu, sudah sepatutnya seorang guru harus menunjukkan perilaku yang baik, karena sangat besar kemungkinan peserta didik akan meniru setiap tindakan yang mereka lihat dari gurunya. Setiap tindakan yang dilakukan oleh seorang guru akan menjadi cerminan bagi peserta didiknya.

Apabila guru berperilaku baik dan berakhlak mulia, maka besar harapan peserta didiknya akan berperilaku yang baik pula, begitu juga sebaliknya.

Menjalankan berbagai tanggung jawab sebagai seorang guru bukan hal yang selalu mudah. Memiliki beragam peserta didik dengan karakter yang berbeda-beda hingga berbagai tuntutan dan tanggung jawab lainnya yang harus diselesaikan akan selalu menjadi tantangan tersendiri bagi seorang guru.

Namun ketika kita bisa menjalankannya dengan baik, buah dari usaha tersebut akan sangat manis dan berdampak sangat besar. Dampak tersebut tidak hanya dirasakan oleh diri kita sendiri akan tetapi juga hendaknya bagi ratusan bahkan ribuan peserta didik kita. Yaitu ketika pengetahuan dan ilmu yang diperoleh bisa memberikan kontribusi luas bagi masyarakat.

Tetaplah semangat guru-guru hebat di seluruh Indonesia untuk terus memberikan kontribusi dan dedikasi terbaik bagi dunia pendidikan. Wallahu a’lam.

Sumber : https://bireuen.sukmabangsa.sch.id/lima-peran-guru-dalam-mendidik-anak-bangsa/